Sabtu, 28 November 2009

Untuk kita Renungkan


Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan matanya yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah.Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. ”Kita harus lakukan sesuatu,” ujar sang suami. ”Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk Pak Tua ini.”Lalu, suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring dan gelas, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada air mata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua kejadian itu setiap hari dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. ”Kamu sedang membuat apa?” Anaknya menjawab, ”Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saat Aku sudah besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Setelah Mereka makan bersama di meja makan seperti semula. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.RenunganAnak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak.Sahabat….sesering apakah kita menangis mendo’akan anak-anak kita agar tak terjerumus di lembah maksiat yang kini telah menembus seluruh lorong ruang dan waktu ?Sesering apakah kita meratap memohon agar anak-anak kita memiliki benteng keimanan yang mampu menahan serangan pergaulan bebas dan narkoba yang telah merajalela ?Sesering apakah kita menumpahkan air mata ini untuk anak-anak kita agar kelak mereka senantiasa memohonkan ampunan untuk kita ketika kita telah terlelap di alam penantian nanti ?Seering apakah kita mengantar tidur malamnya dengan cerita-cerita indah penuh keteladanan ? dan keteladanan yang mana pula yang sering kita peragakan dihadapan mereka ?Tiga hal yang akan abadi bersama kita walau ajal telah datang :1. Amal Jariah ( Wakaf dan Sedekah ).2. Ilmu Yang Bermanfaat yang memberi dampak kebaikan kepada banyak orang.3. Anak Yang Sholeh yang selama hidupnya selalu mendo’akan kedua orang tuanya.Menangislah, karena tumpahnya air mata kita karena takut kepada Allah kelak akan menjadi PEMADAM API NERAKA...

Senin, 23 November 2009

Do'a seorang Ibu


Oleh: Dee dari penuturan seorang sahabatÂCerita ini saya olah dari curhat sahabat saya beberapa hari lalu dalam sebuah forum. Jujur, saya merinding mendengarnya. Benar-benar mengingatkan kembaliarti seorang ibu. Ibu, sosok yang disebut tiga kali oleh Rasulullah untuk dihormati sebelum ayah. Maka doa ibu pun begitu dahsyat. Begitu pulaamarahnya, sehingga kita pun sangat familier dengan legenda Malin Kundang.
Semoga bermanfaat buat para orangtua, wa bil khusus para ibu, dan calon ibu=====Sore itu aku baru pulang dari bekerja. Badan dan pikiran yang lelah karena persoalan menumpuk di tempat kerja, membuat kondisi emosiku agak labil. Sampai di rumah aku berharap tak mendapati hal yang membuat emosiku makin naik. Memiliki tiga anak yang sangat aktif sering kali membuat emosiku naik turun.Keinginanku untuk mendapat ketenangan sejenak di rumah tak terkabul. Sore itu sesampai di rumah, ketiga anakku belum mandi dan rumah berantakan. Meski memiliki khadimat, tapi khadimatku masih terlalu muda, sehingga banyak pekerjaan yang tak tertangani dengan baik olehnya.Sulungku yang berusia 6 tahun asyik dengan game. Putri keduaku dan si bungsu asyik bermain, berlari ke sana kemari. Emosiku mulai kembali naik.”Ummi, Haris dari tadi disuruh mandi nggak mau...” lapor khadimatku.Haris masih asyik bermain game.“Haris, mandi…” kataku berusaha lembut.”Nggak mau ah!””Haris, mandi sama Mbak sekarang...” suaraku mulai keras.Haris tak bergeming. Rasa lelah, pikiran yang masih penuh, ditambah khadimat yang tak becus dan si Sulung yang tak mau menuruti perintahku, makin menambah emosi di dada.”Haris, mandi sekarang juga!” kali ini aku benar-benar tak bisa mengontrolucapanku. Kurasa suaraku begitu keras.Haris tampak kaget. Tapi hanya sejenak. Kemudian dari mulut mungilnya kudengarkata... ”Entar, Bego...”Hooh, rasanya emosiku sudah tak di dada lagi, tapi sudah naik hingga ubun-ubun. Dari mana dia mendapat perkataan itu? Bagaimana mungkin Haris-ku bisaberkata seperti itu pada ibunya...?Kupegang kedua bahunya, masih dengan amarah di dada. ”Bicara apa kamu? Darimana dapat omongan itu? Dengar ya, UMMI NGGAK IKHLAS kamu bicara seperti itu.Ummi nggak ikhlas! Sekarang juga kamu minta maaf!”
Rasanya lisanku sudah tak terkontrol. Kulihat Haris tampak diam dan takut.”Ayo, minta maaf sama Ummi!””Ma-af, Mi...” dengan terbata Haris berucap.”Ya sudah, Ummi maafkan. Sekarang kamu mandi sama Mbak!” kataku. Ucapan”Ummi maafkan” sepertinya hanya sekadar saja keluar dari mulutku. Amarah dan kecewa anakku mengucapkan kalimat ”Entar, Bego...” masih menggumpal didadaku.***Keesokan harinya, amarahku sudah terkikis. Sore hari aku mengecek pelajaran Haris. aku ingat esok hari Haris ada tugas mengulang mengulang hafalan.”Ah, surat-surat yang mesti diulang hampir semua sudah Haris hafal. InsyaAllah, Haris bisa,” kataku yakin.Setelah itu aku membantu Haris untuk mengulang hafalan.”Ayo, baca bismillah dulu, Ris...””Bis...” suara Haris terputus.”Lho kok, bis... bis-millah.. .””Bis...” lagi-lagi suara Haris terputus.”Haris... jangan bercanda. Ayat Al Quran jangan dipermainkan. Ayo ulanglagi, bismillah...””Bis...””Haris!” emosiku mulai naik.”Tapi, Mi... Haris nggak bisa...””Masak bismillah saja tidak bisa, bis-mi-Allah. ..”Haris mencoba mengulang, tapi lagi-lagi terhenti di kata ”bis”. Aku benar-benar tak habis pikir.”Haris! Ummi serius ini. Kamu jangan bercanda, mempermainkan ayat Al Quran!Coba, A-L-L-A-H...””A.... A... Ummi haris nggak bisa...””A-L-L-A-H... . ulang lagi... A-L-L-A-H… BISMILLAH…”“A…. A…”Aku mulai panik. Kuamati wajah Haris. Dia tak terlihat bercanda atau mempermainkanku.“Istighfar dulu, Ris, As-tag-fi-ru- llah…””Astagfiru...” lagi-lagi suara Haris terputus.Aku semakin panik. Ada apa dengan anakku? Padahal dia sudah hafal setengah juz30. bagaimana mungkin menyebut ”bismillah”, ”astagfirullah,” bahkan
”Allah” saja tak bisa...?Aku berusaha menenangkan diri. ”Yuk, bareng Ummi... kita istighfar...””Astagfirullah. ..”Namun lagi-lagi, Haris tak dapat menyelesaikan kalimat tersebut.Aku benar-benar tak habis pikir. Beberapa kali kuminta Haris mengulang kataAllah, Allah, Allah... tak juga bisa.Tiba-tiba runtunan kejadian kemarin berkelebat di otakku.”Astagfirullah. ...” kuucap berulang kali.... Kalimat ”ummi tidak ikhlas” terngiang-ngiang. Inikah yang menyebabkan Haris tak dapat menyebutkata Allah? Tapi bagaimana mungkin? Haris masih kecil, baru 6 tahun...Namun, tak ada yang tak mungkin bagi Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya.Langsung kupeluk Haris, air mata berbulir jatuh.”Maafkan Ummi, ya, Ris... maafkan, Ummi. Ummi juga memaafkan semua kekhilafan Haris. Ummi maafkan kesalahan Haris...” Kupeluk Haris makin erat.Haris tampak tak mengerti. Air mataku menderas. ”Maafkan Ummi... dan Ummi maafkan Haris...”Setelah beberapa saat menenangkan diri, aku minta Haris untuk sama-sama membaca istighfar kembali. Dan... subhanallah. .. tanpa kesulitan Haris mengucap dengan lancar. Dan kemudian kalimat bismillah, dan kemudian surat-surat Al Quran yang hendak ia ulang, semua lancar dibaca.Subhanallah, Allahu Akbar... betapa kecil kurasa diriku saat itu. Teringat aku kisah Al Qomah pada masa Rasulullah, yang mulutnya terkunci tak dapat mengucap”Laailahailallah” saat sakaratul maut, karena sang Ibu tak ikhlas padanya.Aku bersimpuh... .Ampuni aku, ya Allah....____________ _________ _________ ___"Apabila engkau sedikit berdzikir/mengingat Allah di dunia, niscaya sedikitpula kesempatanmu memandang-Nya dan kedekatanmu pada-Nya di akhirat"Demi Ridho Allah & senyum Rasulullah

Senin, 20 Oktober 2008

Anak-anakku tercinta


Hai aku baru mau coba nulis ni..
perkenalkan aku wahyu, umur 32 thn, istri satu dan Alhamdullilah aku udah di beri 3 orang anak-anak yang cerdas.
yang pertama bernama Muhammad Rifqi Hidayat, umur 8 thn, aku juluki dia si tukang nanya / terlalu kritis, karena setiap saat selalu saja ada yg di tanya dan selalu tidak puas dgn jawaban yang aku dan istriku berikan, kedua Muhammad Riyadh Muzakki,4,5 thn.. over active / selalu bergerak, tidak pernah dia dalam aktifitasnya tidak berlari, pasti selalu berlari, sehingga sering kali bajunya basah oleh keringat, dan akhirnya kami harus sering menggantinya, dan yang terakhir si cantik, Razita Zaskia Irdina, umurnya baru 1,6 tahun..tapi hobinya suka senyum...selalu tersenyum, and very active, aku berharap mereka bertiga menjadi anak2 yg sholeh dan sholehah.
ok gitu aja dulu..next time aku nulis atau posting yg laen deh..thanks